- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- 585 Personel Gabungan Jajaran Polda Metro Disiagakan pada Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Semakin Semarak dengan Pertunjukan Barongsai Berkelas Dunia
- BNI Apresiasi Prestasi Alwi Farhan di Australia Open 2026, Pembinaan PBSI Dinilai Berhasil
- Jaga Stabilitas Keamanan Koramil 06/ Cbd dan Koramil 09/Setu Patroli Malam
- Berikan Pengarahan di Kantah Kota Samarinda, Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
- Sambut Kedatangan Megawati di Bulan Bung Karno Sebagai Loyalitas Kader Partai
DKPP Kabupaten Blitar DBHCHT Tanam Cabai Dukung Penguatan Pangan

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar – Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2025 di Kabupaten Blitar selain untuk penguatan sektor tembakau, ada kebijakan untuk menjaga stabilitas harga pangan dengan mengembangkan budidaya cabai off season. Langkah ini dipandang strategis untuk menekan potensi lonjakan harga cabai yang kerap memicu inflasi daerah.
Program yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar ini menargetkan pengembangan cabai rawit yang ditanam di luar musim, terutama pada periode musim hujan ketika produksi cabai di banyak daerah menurun drastis.
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, menjelaskan bahwa cabai merupakan komoditas yang sangat sensitif dan memiliki kontribusi besar terhadap inflasi. Karena itu, Pemkab Blitar perlu memastikan adanya pasokan alternatif pada saat petani lain berhenti menanam.
Baca Lainnya :
- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Semakin Semarak dengan Pertunjukan Barongsai Berkelas Dunia
- BNI Apresiasi Prestasi Alwi Farhan di Australia Open 2026, Pembinaan PBSI Dinilai Berhasil
“Penanaman cabai off season ini kita arahkan untuk musim hujan. Di Blitar Utara, biasanya tidak ada petani yang menanam cabai pada periode itu. Dengan penanaman di luar musim ini, kami berharap panen nanti bisa membantu menstabilkan harga,” ujarnya.
Melalui DBHCHT 2025, program ini difokuskan pada empat kecamatan: Doko, Talun, Nglegok, dan Srengat, dengan total lahan 16 hektare yang dikelola empat kelompok tani hortikultura berpengalaman. Setiap kelompok menggarap sekitar empat hektare lahan.
Pemilihan wilayah dilakukan setelah identifikasi kesiapan lahan dan kemauan petani. Sebab, tidak semua petani bersedia menanam cabai pada musim hujan, mengingat risiko hama dan penyakit lebih tinggi serta banyak lahan sawah yang digunakan untuk tanam padi.
Siswoyo menegaskan bahwa program ini tidak menyasar petani tembakau, karena pengembangan cabai off season termasuk kategori peningkatan sarana produksi pangan.
“Karena ini bukan program diversifikasi tembakau, sasarannya adalah petani hortikultura yang memang siap dan terbiasa mengelola cabai,” ujarnya.
DKPP menyiapkan dukungan lengkap mulai dari benih cabai tahan virus, pupuk kimia dan organik, hingga mulsa plastik. Proses pengadaan sarana produksi masih berlangsung dan ditargetkan selesai sebelum jadwal tanam pada Desember 2025. Panen diperkirakan terjadi pada Februari–Maret 2026, saat harga cabai umumnya melonjak.
Pendampingan teknis intensif akan dilakukan dari awal persiapan hingga masa panen, mengingat budidaya musim hujan memiliki tingkat risiko lebih tinggi.
“Kami siapkan pendampingan supaya petani tidak bekerja sendiri. Risiko hama dan penyakit sangat agresif saat musim basah, jadi perhatian lebih harus diberikan,” katanya.
Pemkab Blitar menaruh harapan besar pada keberhasilan program ini. Jika hasil panen memadai dan harga cabai tetap terkendali, pengembangan off season akan diperluas sebagai model produksi hortikultura yang adaptif dalam menghadapi perubahan iklim dan pasar.(adv/za/mp)
















