- Merasa Dirugikan Ratusan Juta Rupiah, Pemilik Percetakan Laporkan Tiga Mantan Karyawan
- Hadapi Ketidakpastian Global, Bank Jakarta Percepat Transformasi Digital dan Penguatan Risiko
- Jawaban Bupati Majalengka Soal APBD 2025 : PAD, Pajak, hingga Infrastruktur
- Iing Misbahuddin Soroti 87 Tambang Ilegal, Pajak Majalengka Bocor
- Harganas 2026 Meledak! Bupati Majalengka Guncang Isu Ayah Absen
- Momentum 8 Dekade BNI, Transformasi Perkuat Kinerja dan Daya Saing
- Tak Sekadar Santunan, Pemkot Tangerang Dorong Penerima Manfaat BPJS Ketenagakerjaan Lebih Produktif
- Serahkan 5.000 Sertifikat Halal, Maryono: Sinergi Wujudkan UMKM Makin Naik Kelas
- Harganas 2026, Kemensos Tegaskan Negara Harus Hadir untuk Keluarga Indonesia
- Momentum Harganas Ke-33, Sachrudin: Keluarga Berkualitas Fondasi Wujudkan Generasi Emas
Hadapi Ketidakpastian Global, Bank Jakarta Percepat Transformasi Digital dan Penguatan Risiko

Keterangan Gambar : Bank Jakarta Percepat Transformasi Digital dan Penguatan Risiko
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fondasi yang kokoh meski menghadapi berbagai tantangan akibat ketidakpastian ekonomi global. Namun, perubahan lanskap bisnis yang semakin dinamis menuntut sektor perbankan dan pasar modal untuk terus bertransformasi agar mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan kondisi fundamental perbankan nasional hingga saat ini masih terjaga dengan baik. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang relatif rendah.
"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ujar Agus saat menjadi pembicara dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Baca Lainnya :
Menurutnya, industri perbankan dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan perdagangan global. Situasi tersebut membuat strategi bisnis konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan industri.
Agus juga mengungkapkan meningkatnya tekanan terhadap biaya dana (cost of fund). Ia menyebut suku bunga deposito pada lelang dana antarbank sempat menyentuh 11,5 persen, yang menunjukkan meningkatnya biaya penghimpunan dana di sektor perbankan.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Jakarta melakukan transformasi menyeluruh melalui penyempurnaan model bisnis, percepatan digitalisasi layanan, penguatan manajemen risiko, hingga pembentukan budaya kerja yang lebih adaptif.
Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta juga memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan ekosistem pemerintahan daerah. Potensi perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta dinilai menjadi sumber pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Selain itu, transformasi digital terus dipacu melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi layanan, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Agus menambahkan bahwa penguatan manajemen risiko kini menjadi prioritas utama karena ancaman yang dihadapi industri perbankan semakin multidimensi, tidak hanya terbatas pada risiko kredit, tetapi juga mencakup keamanan siber dan berbagai risiko lainnya.
"Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi," katanya.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffry Hendrik, menilai peningkatan kualitas investor menjadi faktor penting dalam memperkuat pasar modal Indonesia.
Menurutnya, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih komprehensif, pendalaman pasar, serta keterbukaan informasi kepada publik.
"Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi," ujar Jeffry.
Ia mengungkapkan jumlah investor domestik kini telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas melalui literasi dan pemahaman investasi yang lebih baik.
Jeffry mengingatkan agar investor mampu menganalisis instrumen investasi sesuai profil risikonya masing-masing dan tidak mudah terpengaruh tren maupun rekomendasi influencer di media sosial.
"Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan strategi Bank Jakarta yang lebih mengutamakan pertumbuhan yang sehat dibandingkan mengejar ekspansi secara agresif.
"Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," ujar Agus.
Bank Jakarta dan BEI pun sepakat bahwa transformasi digital, tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta literasi keuangan akan menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan industri keuangan nasional di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat.(AS/MP).
















