- Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT Sebanyak 480 Personil Disiagakan
- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- 585 Personel Gabungan Jajaran Polda Metro Disiagakan pada Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Semakin Semarak dengan Pertunjukan Barongsai Berkelas Dunia
- BNI Apresiasi Prestasi Alwi Farhan di Australia Open 2026, Pembinaan PBSI Dinilai Berhasil
- Jaga Stabilitas Keamanan Koramil 06/ Cbd dan Koramil 09/Setu Patroli Malam
- Berikan Pengarahan di Kantah Kota Samarinda, Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
Bahaya Rokok Vape dan Anggapan Industri Rokok Vs Farmasi, Ini kata DR.Agus Dwi Susanto

Keterangan Gambar : Caption: "Indonesian Chronic Lung Disease International Meeting" di Shangrila hotel Jakarta, Sabtu 24 September 2022.poto: DR. Dr. Agus Dwi Susanto(tengah),
Megapolitanpos.com, Jakarta -- Akibat merokok jelas sangat berbahaya, apapun alasannya merokok merugikan kesehatan. Banyak masyarakat beranggapan mengalihkan rokok konvensional ke rokok elektronik dengan alasan nyaman dan tidak berbahaya bagi dirinya juga orang lain.
Namun, ternyata rokok elektronik (vape) pun tak lebih aman dibandingkan rokok biasa.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia(PDPI), DR. Dr. Agus Dwi Susanto menegaskan, masyarakat perokok banyak yang beranggapan keliru harus berubah maenshet, jangan hanya menjadi korban iklan atau tanpa di teliti kebenarannya, keduanya sama-sama menyebabkan gangguan kesehatan.
" Di dalam rokok elektronik, terkandung nikotin, karsinogen, serta bahan toksik atau mengandung racun lainnya. Bahan-bahan inilah yang berisiko membahayakan kesehatan paru-paru, Jadi tidak benar kalau rokok elektronik lebih aman karena mereka sama-sama ada kandungan ini, meskipun tidak mengandung tar ternyata rokok elektronik itu ada bahan karsinogen," ujar Agus dalam konferensi pers " Pertemuan Ilmiah Khusus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PIK PDPI)", di Hotel Shangrila Jakarta, Sabtu (24/09/2022).
Baca Lainnya :
- Prabowo: Obat Generik Murah dan Modernisasi Rumah Sakit Jadi Prioritas Pemerintah
- Pramono Anung Pastikan Anggaran Kesehatan Tak Dipangkas, Resmikan Gedung Baru Puskesmas Matraman
- Borong Tiga Penghargaan Digital Brand Awards 2026, BRI Life Perkuat Asuransi Jiwa dan Kesehatan
- DPRD Kota Tangerang Menyambut Baik Hadirnya layanan BPJS Kesehatan di UPT RSUD Benda
- BRI Life Hadirkan CSR Berkelanjutan: Dari Kesehatan Mata hingga Penguatan Ekonomi Desa
Menurutnya, ada tig persamaan Produk Rokok Konvensional dan rokok elektronik
Yang pertama tentu sama sama mengandung zat Nikotin. Kedua membuat penggunanya merasa ketagihan atau kecanduan, jika pengguna sudah kecanduan membuat ketergantungan.dan tentu dapat membahayakan jantung dan pembuluh darah.
Kemudian ketiga bahan Karsinogen yang ada pada vave dan cairan logam dari pengawet dapat menyebabkan sakit kanker, sedangkan rokok konvensional mengeluarkan zat Tar. Itu artinya sama sama menyebabkan penyakit kanker.
" Apalagi vape asapnya banyak dan menimbulkan asap yang mudah terhirup orang disekitarnya", kata DR.Agus.
Berdasarkan data Global Youth Survey tahun 2011, prevalensi pengguna rokok elektronik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen di tahun 2011 menjadi 1,2 persen tahun 2016. Kemudian 10,9 persen pada 2018.
• Anggapan Propaganda Industri Rokok Vs Farmasi*
Mengenai anggapan bahwa edukasi pelarangan merokok cuma alasan dan dianggap perang propaganda antara industri Rokok dan industri Farmasi, dengan tegas Dr Agus menyangkal bahwa informasi tersebut tidak benar.
" Kalau di luar negeri itu mungkin saja, karena
Disana ada obatnya, kalau di Indonesia saya katakan selama 10 tahun terakhir tidak ada obat untuk berhenti merokok", tegasnya.
Selain itu, kebiasaan merokok juga dapat menyebabkan penyakit kulit seperti alergi dll
Menghirup udara nya saja bagi yang memiliki kulit yg hiper sensitif dapat menyebabkan penyakit kulit, " Coba bandingkan para selebriti yang punya kebiasaan merokok dengan yang tidak merokok , kulitnya perokok kelihatan kekuningan, pucat dan kelihatan lebih tua," Pungkasnya.(ASl/Red/MP).



.jpg)













