- Sorot Anggaran Lift Rp 1,8 Miliar di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, CBA Minta Kejati DKI Selidiki
- DPD PSI Majalengka Turun ke Masyarakat, Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Perkuat Struktur Partai
- RoboSports Bangun Ekosistem Olahraga Robotik Modern
- Kolaborasi Peningkatan Kualitas Layanan Pertanahan
- Bentuk Kepedulian terhadap Sesama, Kementerian ATR/BPN Gelar Bazar Ramadan 1447 H
- Sosialisasi Permen 2/2026 tentang Kearsipan, Sekjen ATR/BPN: Pengelolaan Arsip Penting bagi Pelayanan Pertanahan
- Berikan Pengarahan di Rakerda Kanwil BPN Provinsi Sumsel, Sekjen ATR/BPN: Kemampuan Kelola Tiga Instrumen Jadi Kunci Sukses Pemimpin
- Bedah Buku di Universitas Sahid, GEMA Kosgoro Dorong Menlu Sugiono Pelajari Reunifikasi Korea: Game Theory
- Politisi PKB Safari Ramadhan Perkuat Kebersamaan Bersama Masyarakat Lahei
- Dewan Hasrat, Safari Ramadhan Jadi Wadah Serap Aspirasi Warga Lahei
Klaim media proporsional beritakan terorisme, CIIA:IFJ dan Ketua AJI ngibul

JAKARTA (megapolitanpos.com) - "IFJ dan Ketua AJI ngibul"
pernyataan yang mereka klaim bahwa media di Indonesia sudah mengelola
isu terorisme dengan baik itu berlebihan bahkan cenderung mendramatisir.
Hal itu disampaikan Direktur CIIA (The Community of Ideological
Islamic Analyst) Harits Abu Ulya kepada arrahmah.com, Selasa (29/1/2013)
Jakarta.
"Apa ukuran AJI bisa meredam aksi terorisme? Pernahkah dilakukan
riset yang bisa dipertanggungjawabkan korelasi pemberitaan dalam isu
terorisme dengan tingkat kuantiti aksi terorisme?" Katanya.
Lanjut Harits, justru kalau intens memonitoring pemberitaan, baik
oleh media cetak,online maupun elektronik tentang terorisme tampak
sekali tidak proporsional dan tidak bersikap kritis.
Justru media telah banyak melanggar kaidah-kaidah jurnalistik dalam
pemberitaan. Media telah menjadi corong propaganda dari war on terrorism
yang dikumandangkan Barat.
"Media telah melakukan pengadilan secara sepihak terhadap orang-orang
yang baru terduga teroris.Media sering tendensius mengkaitan aksi
terorisme dengan simbol-simbol Islam,"tegasnya.
Kata Harits, media justru mengabaikan fakta sosial kultur masyarakat
Indonesia yang mayoritas muslim, dengan mencekoki opini dan propaganda
yang menyudutkan Islam sebagai biang terorisme.
"Bahkan, media menjadi alat mindset control untuk membangun persepsi
kolektif bahwa teroris adalah kelompok yang memiliki visi politik
berbeda dengan kepentingan Barat," tuturnya.
Mendikreditkan Islam
Harits melihat justru media banyak berperan menjadi provokator dan
stimulan aksi kekerasan dan teror di Indonesia. Media mempertontonkan
sebuah arogansi penegak hukum, media tidak pernah membeber secara kritis
apakah tindakan-tindakan tersebut proporsional atau bahkan berupaya
menggali latar belakang secara komprehensif apa yang melatarbelakangi
fenomena "terorism" dilevel global maupun lokal.Tapi, media sudah
terjerembab dalam kubangan mindset liberal yang searus dengan proyek
Barat.
"Jadi pujian-pujian diatas adalah politis dan skenario Barat untuk
mengikat paradigma para jurnalis di Indonesia agar seirama dan segendang
dengan visi Barat," paparnya.
Selama 10 tahun terakhir, menurutnya media menyajikan berita
"terorisme" dengan kemasan yang sangat tidak etis dan bombastis. Condong
menari diatas penderitaan dan ketersinggungan umat Islam, tanpa pernah
mau melakukan koreksi jika ada kesalahan.
"Media menurut saya sebagian besar benar-benar telah berhasil
mendiskreditkan Islam dan umatnya, dan ini adalah kejahatan sistemik
media. Baik dengan latar belakang ekonomi maupun politik yang jadi
paradigma penyajian beritanya. Jadi IFJ dan AJI tukang ngibul," pungkas
Harits.
Seperti diberitakan sebelumnya, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ)
mengklaim Aliansi Jurnalis Independen (AJI) berhasil menangani isu
terorisme di Tanah Air. Cara AJI dan media di Indonesia mengelola isu
terorisme secara proporsional yang dianggap ampuh meredam aksi
terorisme.. Ia mengklaim media telah menyediakan porsi yang cukup untuk
korban terorisme. (bilal/arrahmah.com)














