Bangun RS Khusus Anak Yang Digagas Komisi E Dan Pj. Gubenur DKI, Rekan Indonesia : Asal Bunyi.
Parahnya, wacana asal bunyi itu didukung oleh PJ. Gubernur, Heru Budi Hartono

By Ahmad Romdoni 31 Okt 2022, 07:42:52 WIB DKI Jakarta
Bangun RS Khusus Anak Yang Digagas Komisi E Dan Pj. Gubenur DKI, Rekan Indonesia : Asal Bunyi.

Keterangan Gambar : Agung Nugroho, Ketua Nasional Rekan Indonesia


MEGAPOLITANPOS.COM: Jakarta-Rencana pembangunan RS khusus anak yang digagas oleh Komisi E dan didukung oleh Pj. Gubernur, Heru Budi Hartono dinilai oleh Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia sebagai wacana asal bunyi

Pasalnya, alasan yang dikemukakan oleh Komisi E adalah berlandaskan peristiwa maraknya gagal ginjal akut pada anak dan mengatakan bahwa DKI tidak memiliki fasilitas khusus (faskes) anak.

Parahnya, wacana asal bunyi itu didukung oleh PJ. Gubernur, Heru Budi Hartono yang menyatakan menyambut baik wacana itu dan Ia akan memikirkan usulan tersebut lantaran di Jakarta belum memiliki faskes khusus anak.

“Ya, bagus. Berbagai cara kita coba. Nanti Dinas Kesehatan yang mengkolaborasi, mendesain itu,” kata Heru Budi Hartono kepada wartawan di Balai Kota DKI, Rabu, 26 Oktober 2022.

Agung Nugroho, ketua nasional Rekan Indonesia menganggap baik komisi E dan Pj. Gubernur DKI tidak memahami problem utama kesehatan DKI Jakarta. Dan menurutnya apa yang dilempar oleh komisi E bukan solusi untuk mengatasi masalah fasikitas kesehatan untuk anak.

"Jelas asal bunyilah itu komisi E dan Pj Gubernur soal fasilitas kesehatan khusus anak" kata Agung.

Menurut Agung, maraknya gagal ginjal akut yang terjadi penyebabnya masih diduga karena pemberian obat jenis sirup yang mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan melebihi ambang batas aman, meski dari hasil penarikan obat tersebut oleh kemkes di klaim berhasil menurunkan angka kasus 95% .

"Seharus Komisi E dan Pj. Gubernur fokus pada penarikan 5 jenis obat yang oleh kemkes dimasukan ke dalam daftar obat yang mengandung EG melebih ambang batas aman tersebut" ujar Agung.

Agung melanjutkan bahwa untuk menangani gagal ginjal akut pada anak di DKI, pemprov DKI telah memiliki faskes khusus anak di beberapa RSUD, mulai dari tumbuh kembang anak, PICU, NICU, sampai sub spesialis nefrologi.

"Hanya memang DKI belum punya fasilitas hemodialis untuk anak, dan untuk layanan hemodialisis (cuci darah) anak ini masih harus di rujuk ke RS Tipe A" ungkap Agung.

Agung kembali menjelaskan, bahwa layanan cuci darah pun bukan dilakukan seumur hidup, tapi cukup sampai kondisi dinyatakan sembuh secara klinis.

"Apalagi sekarang sudah ada obatnya yaitu Fomepizole yang oleh pemerintah pusat dibeli dari Australia dan Singapura" tegas Agung.

Bagi Agung, lebih urgent adalah penambahan fasilitas NICU, PICU di RS Tipe B dan C sehingga kebutuhan untuk NICU dan PiCU untuk anak bisa terpenuhi selain itu juga penambahan pelayanan hemodialisis khusus anak di setiap RS Tipe B di DKI Jakarta.

"wacana komisi E yang bersambut gayung oleh pj. Gubernur itu menunjukan  ketidakpahaman akan problem kesehatan di DKI, jadi asal bunyi" ulang Agung




  • Merasa Dirugikan Ratusan Juta Rupiah, Pemilik Percetakan Laporkan Tiga Mantan Karyawan

    🕔17:58:31, 30 Jun 2026
  • MUBES Jakmania: Seluruh Jakmania Harus Memiliki Hak yang Sama dalam Demokrasi

    🕔08:48:04, 29 Jun 2026
  • Terkait Isu Dugaan Penyekapan dan Pemerasan di Percetakan “Mau Print”, Pemilik Percetakan Memberikan Klarifikasi dan Memohon Masyarakat Jangan Mudah Terbawa Opini Sesaat

    🕔09:40:22, 28 Jun 2026
  • Hingga Juni 2026 Polda Metro Berhasil Ungkap 3.809 Kasus dan Sita 17,45 Ton Narkotika

    🕔11:39:23, 27 Jun 2026
  • PRSI dan PT Angri Pangan Indonesia Maju Teken MoU Dukung Program Robotika untuk Negeri

    🕔14:04:04, 27 Jun 2026