Menkes Bilang Bencana Asap Bukan Penyebab Kematian, Kadiskes Sumsel Bayi 28 Hari Wafat Karena Menghirup Asap - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Menkes Bilang Bencana Asap Bukan Penyebab Kematian, Kadiskes Sumsel Bayi 28 Hari Wafat Karena Menghirup Asap

Peristiwa
menkes bilang bencana asap bukan penyebab kematian kadiskes sumsel bayi 28 hari wafat karena menghirup asap
Korban Bencana Asap Di Riau

Megapolitanpos.com,Jakarta. Pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek yang mengatakan tidak ada warga yang meninggal dunia karena disebabkan oleh bencana asap terbantahkan oleh pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Kadiskes Sumsel) yang menyatakan kematian bayi 28 hari di RS. Muhammadiyah disebabkan karena paparan asap.

Seperti dilansir media online lokal goriau.com, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel Lesty Nuraini mengaku sudah mendapatkan keterangan dari tim dokter Rumah Sakit Muhammadiyah, yang merawat bayi Muhammad Husen Saputra (28 hari). Hasilnya, bayi tersebut kemungkinan besar meninggal karena terpapar asap. Dari keterangan tim medis, bayi tersebut sudah demam tinggi selama dua hari.

Dalam waktu bersamaan, bayi pasangan Hendra (33) dan Mursidah (34) itu juga mengalami sesak napas. Namun, saat kondisinya sudah parah, bayi tersebut baru dibawa ke rumah sakit.

"Bayi tersebut masuk rumah sakit Selasa pagi, malamnya meninggal dunia. Dia dirawat di UGD selama 14 jam," ungkap Lesty, Kamis (8/10).

Dari hasil pemeriksaan klinis, penyakit bayi Husen mengarah pada infeksi paru-paru yang menyebabkan Bronkopneumonia. Bronkopneumunia adalah suatu radang parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau pun benda asing yang ditandai dengan gejala panas yang tinggi, gelisah, dispnoe, napas cepat dan dangkal, muntah, diare, batuk kering, dan produktif.

"Menurut dokter yang merawat ada kemungkinan infeksi paru-paru yang menyebabkan Bronkopneumonia. Kabut jelas bisa memperparah untuk Bronkopneumoni," terangnya.

Sementara Menkes Nila F Moeloek seperti yang dilansir kompas.com di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2015) menyatakan, Nila berharap tidak ada pihak yang tergesa menyimpulkan jatuhnya korban jiwa hanya disebabkan kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Ia memilih berpikir logis, jika penyebab kematian adalah asap, maka jumlah korban jiwa dapat lebih banyak dari saat ini.

"Misalnya penderita paru-paru yang jelek, begitu udara jelek saya keluar, akhirnya saya sesak, bisa mati saya. Jadi bukan karena asap terus kita mati. Kalau begitu, pasti sudah banyak yang bertebaran meninggal dong," pungkas Nila.

Sementara Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) mengatakan pernyataan menkes tersebut menunjukan bahwa pemerintah menganggap remeh terhadap jatuhnya korban jiwa akibat bencana asap tersebut.

"Jelas ini mengesankan bahwa menkes telah menganggap enteng jatuhnya korban akibat bencana asap yang terjadi di sumatera dan kalimantan selama ini, sebaiknya menkes tidak menutup-nutupi bahwa kematian yang terjadi terhadap warga di lokasi bencana asap karena disebabkan kondisi udara yang buruk"

"Yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan warga dilokasi bencana asap terutama bayo dan valita dari serangan ISPA, dengan membagikan masker yang dapat menghindarkan warga dari terisapnya partikel berbahaya yang dikandung oleh Bencana Asap yang temgah terjadi sekarang:tegas Agung Nugroho. (AM)

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top