Bohong Pejabat Dinkes DKI Ke Vietnam Studi Banding Soal DBD - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Bohong Pejabat Dinkes DKI Ke Vietnam Studi Banding Soal DBD

Peristiwa
bohong pejabat dinkes dki ke vietnam studi banding soal dbd
Unras Rekan Indonesia Di Kemenkes

MEGAPOLITANPOS.COM. Jakarta. Polemik keberangkatan puluhan pejabat kesehatan di dinas kesehatan (dinkes) DKI Jakarta terus berlanjut. Awalnya Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) yang membongkar plesirannya pejabat kesehatan didinkes DKI ke Vietnam (8/3), lewat siaran persnya yang disampaikan oleh Sekretaris Nasional Rekan Indonesia, Ervan Purwanto yang akrab dipanggil Ervan.

Ervan menyatakan kepergian puluhan pejabat di dinkes DKI ke Vietnam adalah sebuah ironi, ditengah DKI sedang menghadapi maraknya wabah Demam Berdarah (DB) serta masih hangatnya paparan gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tentang kriteria pemimpin di SKPD/UKPD yang menjadi harapan pemerintah provinsi DKI (Pemprov DKI) salah satunya adalah memberikan pengaruh positif kepada warga dan lingkungan kerjanya.

Menanggapi Rekan Indonesia, anggota dewan DPRD DKI dari partai Golkar, H Ramli Muhamad dalam keterangannya yang dimuat di media menyatakan bahwa kepergian pejabat kesehatan di dinkes DKI Jakarta dalam rangka studi banding menangani kasus DBD dan pelayanan rujukan BPJS kesehatan.

"Saya mendukung kegiatan para pejabat Dinas Kesehatan DKI yang melaksanakan studi banding ke Vietnam. Kegiatan mereka itu nanti untuk diterapkan di DKI Jakarta, bagaimana menanganai kasus DBD dan pelayanan rujukan BPJS kesehatan," kata Wakil Ketua Komisi E (Bidang Kesejahteraan Masyarakat) DPRD DKI H Ramli Muhamad, Jumat (8/3/2019) seperti yang dilansir suarakarya.id.

Menurut Ervan statemen H Ramli Muhamad itu mengada-ada karena pertama kepergian puluhan pejabat ke Vietnam tersebut juga mengikut sertakan keluarga dan pensiunan. Kedua, Vietnam bukanlah negara yang dianggap berhasil menangani wabah demam berdarah. Ketiga, Vietnam dengan prinsip preventif health care tidak lagi menitik beratkan pada asuransi kesehatan sementara Indonesia baru bergerak pada penataan kuratif yang efektif dan efesien melalui BPJS, apa DKI mau meninggalkan BPJS sehingga perlu studi banding soal itu ke Vietnam ?.

"Bohonglah kalau mereka dibilang studi banding apalagi alasan soal DBD dan pelayanan rujukan BPJS. Vietnam sendiri masih menjadi uji klinis vaksin dengue sama dengan Indonesia apa yang mau di studi. Kalau mau di studi ya Australia yang sudah berhasil menangani DBD." tegas Ervan.

Ervan menjelaskan bahwa berdasarkan data WHO Vietnam dan Indonesia merupakan negara endemi DBD bersama dengan negara Asean lainnya. Data WHO menyebutkan pada tahun 2012 ada sekitar 100 orang yang meninggal dunia akibat DBD tiap tahunnya di Vietnam. Sementara, dalam periode sama, 100.000 warga Vietnam terinfeksi. Lalu turun pada 2014 dan pada tahun 2016 angka penderita DBD di Vietnam naik 42% yaitu 90.626 penderita. Tahun 2017 mencatat sebanyak 150.000 kasus demam berdarah dengue setiap tahun dan 40 pasien meninggal.

"Dari data tersebut kita patut bertanya apa yang mau di studi dari Vietnam dalam hal penanganan DBD ? Vietnam sendiri masih bergelut dengan penanggulangan DBD sama seperti di Indonesia. Dalam pencegahannya juga sama seperti Indonesia yaitu selain pemberantasan sarang nyamuk juga pengembangan predator jentik.Harusnya kalau mau studi banding ke Australia yang sudah berhasil mengembangkan Bakteri Wolbachia untuk memberantas jentik nyamuk"papar Ervan.

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top