Sejarah Masjid Jami Kalipasir Bagian I - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Sejarah Masjid Jami Kalipasir Bagian I

Wisata
sejarah masjid jami kalipasir bagian i
Masjid Jami Kalipasir Kota Tangerang

MEGAPOLITANPOS.COM, Kota Tangerang-Ini adalah kisah sejarah masjid Jami Kalipasir yang menjadi situs sejarah di Kota Tangerang dan menjadi salah satu pilihan obyek pariwisata, berikut cerita sejarah yang disampaikan oleh H.A Syaerodji ketua DKM masjid Jami Kalipasir.

Pada masa Pajajaran Tangerang sudah menjadi kota pelabuhan yang tingkat kesibukannya urutan ketiga setelah Sunda Kelapa dan Banten. Dan sungai Cipamunggas (Cisadane) menjadi jaliur transportasi pengiriman hasil bumi yang didagangkan menuju pelabuhan besar seperti pelabuhan Banten melalui muara.

Sebagai kota Pelabuhan interaksi anatara kaum pribumi dengan para pedagang dari luar terjalin dengan baik, sehingga islam pun diterima dengan kaum pribumi (sunda) dengan baik. Karena urang sunda memiliki sikap someah ka semah.

Awal daerah Kali Pasir ialah daerah yang dibuka atau disinggahi oleh Ki Tengger Djati tahun 1412. Ki Tengger Djati adalah seorang menekgaluh yang lebih memilih menjalani hidup sederhana dan meninggalkan kehidupan lingkungan istana. Sebagai murid dari Syekh Subaqir beliau berkelana dan membuka lahan untuk menyebarkan islam ke daerah Girang (Banten) yang kemudian daerah tersebut dikenal oleh sebutan Patilasan Ki Tengger Djati.



Kala itu Ki Tengger Djati membuat tempat ibadah kecil untuk dirinya melakukan sholat. Kemudian tahun 1416 setelah terbentuknya masyarakat kala itu tempat ibadah tersebut diperluas sesuai kebutuhan.

Kisaran tahun 1455 Sayyid Hassan ‘Al-Husaini ataun Syekh Abdul Jalil dari Persia dilakukan syiar islam ke daerah Girang (Banten) sebelum sampai ke Girang beliau singgah di Padukuhan Ki Tengger Djati karena amanah dari guru beliau pada saat itu. Untuk menanamkan Aqidah islam yang kuat ditanah nusantara melanjutkan tugas para pendahulu (para wali) sebelum masa beliau, dengan cara mengadukkan pasir yang dibawa dari Karbala dengan tanah yang ada ditempat dimana beliau bersyiar atau berdakwah, syariatnya agar ajaran islam terlarut dalam kehidupan dan kebudayaan yang ada ditempat tersebut. Dan beliau mempeluas tempat ibadah (masjid) yang ada menjadi lebih besar.



Sehingga kala itu, timbul nama “Tanah Pasir” yang sebelumnya disebut dengan Patilasan Ki Tengger Djati, yang kemadian hari dikenal dengan Kali Pasir (nama tempat yang dikenal sampai sekarang).

Tempat ibadah ( Masjid) tersebut menjadi tempat singgahnya para wali dalam perjalanan ke Banten. Bahkan disebutkan Kanjeng Sunan Kali Jaga memberikan atau membuat salah satu tiang di Masjid tersebut. Dengan karomah atau kemuliaan dan keilmuan nya yang tidak tersentuh oleh tangan didalam mendirikannya Waallahu’alam ( Hanya Allah yang menegetahui).

Penuturan berikutnya K.H. Thobaly Syadzily dalam keterangannya menyebutkan Masjid Jami Kali Pasir dibangun pada tahun 1576 M, kala itu daerah Kali Pasir ( Tangerang) merupakan wilayah perbatasan Kesultanan Banten.

Penuturan lokal lainnya menyatakan Masjid Jami Kala Pasir didirikan pada tahun 1516 M, ketika renovasi masjid tahun 2000 salah satu penggerak pembangunan kala itu melihat terdapat tulisan pada tahun 1516 dikayu atas, ( disalah satu kuda-kuda kubah).

Bedasarkan bidang arsitektur secara umum, mengartikan bahwa menunjukkan angka atau tulisan yang terindentifikasi dalam sebuah bangunan tua merupakan tahun atau angka selesainya bangunan tersebut dibangun atau direnovasi.

Masjid di daerah Banten ( Tangerang) perintisannya diawali dengan kegiatan penyebaran agama islam. Kemudian pembentukkan masyarakat muslim, dan tumbuhnya kepemimpinan daerah yang ditempatkan oleh Kesultanan kekuatan tentang ini didukung oleh suatu kenyataan bahwa sejak abad 15 di daerah perbatasan Banten tumbuh kantong-kantong pemukiman muslim ( hoesein Djajaningrat). Masa Adipati Kuripan Ngabei Wirasutadilaga

Pada masa Sultan Maulana Yusuf setelah mengislamkan Pajajaran ditempatkanlah pangeran Arya Ranamanggala putranya sendiri sebagai Panglima yang menjaga ketertiban ( Wali Kesultanan Banten) di tanah Pajajaran pada tahun 1582 -1609, dan jabatan para temenggung atau dipati dikembalikan kepada yang menjabat pada saat itu setelah memeluk islam (di islamkan).

Sehingga secara otomatis daerah Cipamunggas menjadi wilayah di bawah pengawasan Raden Wiratanudilaga (Bubut Sukabumi) pada tahun 1518 Raden Wiratanudilaga menyerahkan kepada Raden Suria Djajadilaga sebagai adipate kuripan 1 dengan gelar Ngabei Wirasutadilaga. Adipate kuripan 1 Ngabei Wirasutadilaga sendiri jika diurutkan masih keturunan pajajaran dari Banten.

Di masa Ngabei Wirasutadilaga 1581-1610 (Adipati kutipan 1) islam di Tangerang sudah berkembang dengan pesat, disamping itu Tangerang merupakan daerah perbatasan kesultanan banten, dan ,memiliki kekerabatan dengan pasudan.

Pada tahun 1608 Pangeran Kuripan bersama pangeran Mahadjajadilaga putra Adipati Ngabei Wirasutadadilaga memeperbaiki masjid yang lainnya dari tanah berwarna hitam yang diyakini berasal dari tanah yang di Irak (pasir Karbala) lantai tersebut walau dari tanah namun bening seperti keramik, jika terinjak telapak kaki setelah berwudhu tidak berbekas/tanahnya tidak menempel dikaki. Tempat tersebut bertiang dari pohon kelapa dan beratap daun sanur.

Tak jauh dari tempat tersebut ada sebuah kolam tidak terlalu besar namun tidak pula kecil, yang digunakan untuk bersuci dan bersebelahan dengan kolam tersebut ada sebuah sumur untuk menimba air, walaupun sungai Cipamunggas yang sekarang dikenal dengan nama sungai Cisadane letaknya tak jauh dari tempat tersebut.

Tahun 1671 cucunya yaitu Tumenggung Pamit Widjaja putra Tumenggung Kuridilaga memperbaiki masjid tersebut menjadi lebih besar, pada waktu itu Sultan Ageng Tirtayasa memberikan “Baluarti” tanda kekeluargaan Kalipasir sebagai kubah masjid sampai sekarang.(Syifa)



Author

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top