Kekuasaan Tidak Pernah Hadir Dalam Persoalan Bencana Alam. - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Kekuasaan Tidak Pernah Hadir Dalam Persoalan Bencana Alam.

Politik
kekuasaan tidak pernah hadir dalam persoalan bencana alam
Gempa Palu

Jakarta. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng utama bumi, yakni lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Lempeng-lempeng ini senantiasa bergerak dan bertumbukan, sehingga berpotensi menimbulkan gempa.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki posisi strategis sekaligus sangat berbahaya, karena memiliki potensi gempa yang besar.
BMKG mencatat ada 19 kali gempa besar yang merusak sepanjang tahun 2017 dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, korban cedera serta kerusakan rumah dan bangunan.

Namun ironi, tingginya aktivitas gempa bumi di negeri ini tidak sebanding dengan tingginya tingkat kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Padahal kita mengetahui struktur bangunan yang buruk dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai siaga bencana mayoritas menjadi faktor utama jatuhnya korban akibat bencana.

Ironisnya dalam sepanjang sejarah republik ini kekuasaan tidak pernah hadir dalam persoalan bencana alam di negeri ini. Pemerintah selama ini hanya merespon selayaknya pemadam kebakaran setelah bencana lewat lalu kembali melupakan tentang kesiapsiagaan bencana.

Dalam setiap pidato kenegaraan sepanjang silih bergantinya pemerintahan di negeri ini tidak pernah ada ungkapan tentang bahayanya republik ini yang secara demographi berada diatas garis cincin api.

Hal ini disampaikan oleh Agung Nugroho, ketua Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) dalam siaran persnya pagi ini (3/10) di Jakarta.

"Bencana sejatinya adalah bertemunya antara bahaya dan kondisi masyarakat yang rentan atau masyarakat yang tidak berdaya sehingga selalu menjadi korban." ujar Agung Nugroho yang juga pengurus pusat Federasi Serikat Pekerja Otomotif Indonesia (FSPOI) bidang ekonomi dan sosial.

Agung Nugroho menambahkan Dalam konteks ini, saat terjadi bencana hanya ada tafsir tunggal, yakni masyarakat yang selalu menjadi korban (meninggal dunia, kehilangan harta benda, sakit, cacat dll). Tidak ada tafsir lain selain keadaan nyatanya seperti itu.

Bagi Agung Nugroho Ini bukti kekuasaan tidak pernah hadir di masyarakat. Mestinya kekuasaan memberdayakan masyarakat (melalui mitigasi bencana dll) sehingga masyarakat menjadi tidak rentan dan tidak jatuh korban terlalu banyak manakala ada bencana.

Dalam akhir siaran persnya Agung Nugroho mengkhawatirkan jika ke depan masyarakat akan muak dengan kekuasaan lantaran ia tidak pernah memberi manfaat kongkrit dalam kewajibannya melindungi jiwa atau kehidupannya.

PR kita bersama ke depan adalah bahwa bencana harus menjadi bagian yang integral dari perencanaan pembangunan bangsa.

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top