Dampak Penggusur Lahan Tidak Sesuai, Warga Jurumudi Tempuh Jalur Hukum - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Dampak Penggusur Lahan Tidak Sesuai, Warga Jurumudi Tempuh Jalur Hukum

Kota Tangerang
dampak penggusur lahan tidak sesuai warga jurumudi tempuh jalur hukum
Ehwi Pengacara warga penggusuran

MEGAPOLITANPOS.COM, Kota Tangerang - Proyek Pembangunan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Kunciran menuju Bandara Soekarno Hatta, berbutut polemik. Lantaran pembebasan lahan seluas 68 bidang di Kelurahan Jurumudi Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Tidak sesuai keinginan warga melainkan membuat warga Jurumudi yang dampak penggusuran tersebut merasa merugi.

Sumarno, salah satu warga Jurumudi mengaku, Selasa (27/2) dari tahun 2009, mereka tidak pernah diajak rapat dan kompromi masalah tentang harga, tiba-tiba ada surat panggilan keputusan harga. Dan mereka anggap harga sudah sesuai, padahal selama ini mereka tidak pernah di ikut sertakan dalam rapat penetuan harga, disini mereka minta keadilan. Pasalnya harga pasaran di wilayahnya sekitar Rp 6 juta per meter, akan tetapi hanya dihargai Rp. 2.832.000 permeter.

"Bukan dapat ganti rugi untung yang kita terima melainkan ganti rugi buntung. Kita masyarakat Indonesia minta keadilan yang sesuai Pancasila sila ke 5, Keadilan Sosial, saya minta Pemerintah dan terkait untuk sedikit membuka hati dalam menyesuaikan harga yang ada di lokasi kita," sambungnya.

Ia berharap agar tanah lahan miliknya dan warga lain yang terkena dampak pengusuran pembangunan JORR, mendapat ganti rugi layak dan sepantasnya,

Sementara itu ditempat yang sama Ehwi, Pengacara dari pihak warga mengatakan, persoalan tersebut kenapa harus menempuh jalur hukum dan proses Pengadilan, karena masyarakat merasa bahwa tidak pernah dilibatkan dalam hal pembebasan lahan untuk pembangunan JORR Kunciran - Bandara,"masyarakat maunya diajak duduk bareng," ucapnya.

Ia pun menambahkan, bshwa tim Apresial atau Consultan Proyek Jorr, seharusnya sesuai proses prosudural yang benar dalam memberikan harga yang layak. Kalau bicara pembangunan, malasah ini jangan sampai membuat dampak masyarakat setempat menderita dan terisolasi, terkait ganti rugi lahan.

"Karena masyarakat setempat hampir rata-rata mereka bekerja disekitaran tempat tinggalnya, ini menjadi penderitaan yang sangat dalam, sudah harga tidak sesuai mata pencarian mereka pun hilang, ketika mereka harus pindah jauh dan akan terjadi dampak ekonomi mereka," tutur Ehwi

Menurut Ehwi, Pasaran dilokasi tersebut harganya di tawarkan paling tinggi Rp. 3.200.000, padahal harga yang sesuai bisa mencapai Rp. 6 jutaan permeter. Pihaknya akan terus berlanjut proses pengadilan, dan akan menggugat BPN, Pihak PU, dan Tim Apresial atau Consultan

Proyek Jorr dan Walikota selaku satgas. Proses persidangan ini tertunda kembali walaupun sidang ini sudah ke empat kalinya, karena pihak yang kita gugat tidak pernah datang dari sidang perdana kita, ungkapnya.

Sementara itu, Rahma, kuasa hukum Kepala Kantor Pengadilan Kota Tangerang, menjelaskan. Sidang keempat terkait JORR, seharusnya berjalan karena pihak Tim Apresial, BPN, Kementerian PU dan Dinas PU Kota Tangerang tidak hadir maka sidang akan dilanjutkan sidang pertanggal 27 maret 2018.

"Mereka akan kita panggil melalui informasi surat dan media, apabila mereka tidak hadir juga maka pihak kita (Pengadilan,red) akan tidak tegas, ini kita lakukan sesuai prosedur kita," pungkasnya. (AR)

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top