KAPPIN : Jangan Pilih Pemimpin Yang Tidak Berpihak Kepada Petani - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

KAPPIN : Jangan Pilih Pemimpin Yang Tidak Berpihak Kepada Petani

Politik
kappin jangan pilih pemimpin yang tidak berpihak kepada petani
poto : megapolitanpos.com

Ketua Umum Kappin Cahyo Nugroho (tengah) sedang berdialog dengan Prof. Erizal Jamal di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta-- Tahun2018 ini, masyarakat Indonesia memasuki tahun politik. Hajatan politik seperti pemilukada serentak di tahun 2018 dan disusul pemilihan anggota legislatif (pileg) serta pemilihan presiden (pilpres) di 2019 akan mengakibatkan suasana sosial kemasyarakatan menjadi panas.

Masyarakat Indonesia, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani akan mengambil peran penting. Suara (vote) mereka sangat penting bagi para kandidat yang akan memperebutkan kursi atau jabatan politik seperti Bupati, Gubernur, Anggota DPR/DPRD I dan DPRD II. Tak tekecuali, politisi yang memperebutkan posisi puncak, yakni Presiden.

Suara kaum petani akan sangat penting. Dan inilah saatnya petani Indonesia mengambil peran vital yang akan menentukan nasib mereka di di kemudian hari. Kaum tani harus cerdas memilih calon pemimpin. Selama ini para petani telah khilaf, karena mereka memilih pemimpin yang justru menyengsarakan petani. Selama dua dasawarsa era reformasi, belum ada pemimpin yang sungguh-sungguh membela, apalagi menyejahterakan petani.

Demikian pokok pikiran pernyataan Ketua Kamar Pertanian dan Peternakan Indonesia (KAPPIN), Cahyo Nugroho. Dalam siaran persnya Cahyo menekankan, agar petani benar-benar cerdas memilih pemimpin. “Gunakan hak pilih dengan cerdas. Jangan pilih mereka yang tidak benar-benar memiliki empati terhadap nasib petani. Jangan pilih mereka yang hanya pandai memberi janji-janji manis kepada petani. Jangan pilih politisi yang memperalat petani untuk kepentingan mereka sendiri. Jangan pilih politisi yang hanya bisa bicara bombastis tentang petani,” kata Cahyo kepadamegapolitanpos.com

Lebih lanjut Cahyo menjelaskan, meski sudah merdeka lebih dari 70 tahun, kehidupan petani tetap di garis marginal. Bahkan, seiring dengan menyempitnya lahan pertanian, semakin tipisnya minat kaum muda menjadi petani, semakin terancamnya persediaan pangan nasional, para pemimpin pemerintahan belum sungguh-sungguh mengutamakan sektor pertanian.

“Buktinya jelas, dalam dua dasawarsa di era reformasi, sektor pertanian kita semakin mundur, kehidupan petanipun semakin tak menentu. Indonesia tertinggal jauh oleh negara tetangga, seperti Thailand dan bahkan Vietnam. Petani-petani maju di negara-negara tetangga itulah yang selama ini memberi makan petani Indonesia melalui raskin, beras jatah untuk rakyat miskin.”

Dan siapa rakyat misksin itu? Cahyo kembali menegaskan, “Tengoklah ke desa-desa, rakyat yang hidupnya paling sengsara karena kemiskinan adalah petani.”

Karena itu, di tahun politik ini, masyarakat petani harus jeli dan selektif dalam menggunakan hak pilihnya. “Satu suara dalam sebuah hajatan politik, sejatinya sangatlah mahal. Karena jika salah menggunakan hak pilih (vote) dalam memilih pemimpin, kita semua akan sengsara. Kita akan membayarnya dengan sangat mahal.”

Cahyo menyontohkan, meski kita tahu dan merasakan Presiden Joko Widodo dan jajaran kabinetnya sangat peduli dengan mayarakat bawah, khususnya petani, tetapi sudah hampir lima tahun belum kelihatan keberpihakannya terhadap petani. “Jalan tol, pelabuhan, embung sudah banyak dibangun. Tetapi jelas terlihat, belum banyak masyarakat bawah, apalagi petani yang merasakan manfaatnya,” pungkas Cahyo. (tom/*)

Author

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top