Kadis Kesehatan DKI Salah Kirim Perwakilan Dalam Diskusi Tim Anies Sandi - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Kadis Kesehatan DKI Salah Kirim Perwakilan Dalam Diskusi Tim Anies Sandi

Jakarta Pusat
kadis kesehatan dki salah kirim perwakilan dalam diskusi tim anies sandi
Dialog Publik Di JMC, Jakarta Pusat

Jakarta. Dialog Publik yang diadakan oleh Terawulan Dharma Indonesia, sebuah lembaga yang digawangi oleh Tim Anies Sandi berlangsung cukup dinamis. Dialog yang mengangkat persoalan kesehatan di DKI Jakarta yang diadakan di Hall Gedung Jakarta Media Center, Kebon Sirih, Jakarta Pusat ini berlangsung dinamis. Para pembicarayang ditampilkan cukup menarik dalam memaparkan persoalan terkait pelayanan kesehatan di DKI yang selama ini terjadi di lapangan.

Pembicara pertama adalahDr. Slamet Budiarto, SH, MHKes yang juga merupakan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta mengangkat persoalan Kesehatan di DKI Jakarta yang menurutnya secara kualitas derajat kesehatannya masih kalah dengan Jogjakarta. Padahal DKI dengan besarnya APBD dan terlengkap fasilitasnya seharusnya bisa melebihi Jogjakarta dalam indeks kesehatan warganya.

"Ini menunjukan bahwa Dinas Kesehatan (dinkes0 DKI selama ini tidak memfokuskan diri pada program preventif dan promotifnya, dan hanya sibuk dalam program pembangunan fasilitas kesehatan yang sebenarnya tidak terlalu urgent. Untuk tempat tidur di RS saja DKI memiliki 25.000 bed, dimana 1 bed dapat digunakan untuk 1000 pasien. Itu artinya 25 juta warga bisa terpenuhi kebutuhan bednya. Sementara Dinkes malah melakukan pembangunan yang merubah puskesmas menjadi RSUD Kecamatan itu tidak terlalu urgent jika dilihat dari jumlah bed dan RS yang sudah ada di DKI ini" ungkap dr. Slamet panggilan akrabnya.

Dr. Slamet juga menambahkan dengan adanya efesiensi dana jaminan kesehatan sebesar 500 Milyar seharusnya DKI bisa lebih menggiatkan upaya preventif dan promotif untuk menaikan indeks kesehatan warga DKI. Belum lagi, tambahnya. DKI masih mendapatkan manfaat dari diberlakukannya BPJS melalui dana kapitasi yang diperoleh puskesmas, hingga ada puskesmas yang medapat dana kapitasi sebesar 1 Milyar rupiah.

"Dengan besaran dana sebesar itu seharusnya DKI bisa lebih meningkatkan upaya preventif dan promotif ke tengah tengah masyarakat. Sehingga kesadaran masyarakat akan cara hidup sehat dan bagaimana mengatasi masalah kesehatan dilingkungannya dapat tumbuh dan berjalan. Saat ini pada kenyataannya Dinkes DKI masih melakukan menunggu bola, artinya jika ada kejadian baru melakukannya itu pun upaya promotif yang sifatnya sementara. Parameter sederhana berjalannya preventif dan promotif dengan baik adalah semakin berkurangnya warga mengunjungi Faskes Tingkat Pertama dan Lanjut" ujar Dr. Slamet.

Sementara itu pembicara kedua, Agung Nugroho, ketua nasional Rekan Indonesia memaparkan bahwa saat ini di era BPJS seharusnya fokus pemerintah daerah melalui dinkesnya sudah dapat memfokuskan pada upaya preventif dan promotif karena untuk upaya kuratif sudah ada BPJS yang menanganinya, Dinkes hanya tinggal melakukan kontrol terhadap pelayanan kesehatan saja di RS.

"Selama ini program yang dilakukan oleh Dinkes lebih bertendensi pencitraan semata,msalnya program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) terbukti hanya gembar gembor saat peresmian saja pada kenyataannya tidak berjalan efektif karena lagi lagi tetap menunggu bola. Sementara dinkes DKI sebagai kepanjangan tangan pemerintah provinsi (Pemprov) lalai dalam menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan terhadap RS dalam hal pelayanan kesehatan" papar Agung biasa dia dipanggil.

Agung dalam wawancaranya dengan media seusai acara mengungkapkan bahwa dinkes DKI setelah era kepemimpinan Dr. Dien Emawati merupakan era dinkes yang paling lamban dalam merespon keluhan warga. Dalam catatannya dia memaparkan selama era kepemimpinan Dr. Koesmedi sebagai kepala dinas (kadis), perlakuan buruk RS di DKI kepada pasien kembali marak, dari Januari sampai November ini tercatat 78 keluhan warga yang lamban direspon oleh Kadis Kesehatan, 12 pasien harus wafat di RS akibat lambat mendapat ruang perawatan khusus, 17 pasien dimintai bayaran, 21 pasien dikenakan beli obat sendiri, 28 pasien harus kesulitan mencari kamar kosong bahkan sampai ada yang selama 4 hari di UGD karena keluarganya harus mencari kesana kemari kamar kosong di RS rujukan.

"Bahkan ada pasien yang sudah meninggal, 3 hari kemudian baru datang balasan respon dinkes"imbuh Agung.

Agung mengatakan, selalin lamban merespon keluhan warga. Kadis Kesehatan DKI juga tidak memiliki sikap tegas terhadap RS yang melakukan pelayanan dengan buruk terhadap warga. Tidak pernah ada tindakan teguran maupun sangsi bagi RS yang melakukan pelayanan buruk terhadap warga DKI. Misalnya selama era Dr. Koesmedi tidak pernah ada upaya dinkes untuk memerintahkan kepada RS mengembalikan uang yang dipungut oleh RS kepada pasien. Beda dengan jama Dr. Dien, dimana jika ada kasus pungutan di RS yang memang terbukti tidak sesuai prosedur pasti dikembalikan lagi ke warga.

Agung juga menambahkan disamping kinerja buruk, sosok kadis kesehatan DKI sekarang elitis dantidak dekatnya kadis dengan warga DKI, buktinya untuk dialog publik sepenting ini saja kadis urung datang dan ironisnya dia malah mengirim utusan yang tidak sesuai dengan tema dialog hari ini dan hanya kepala seksi (kasie) perencanaan pembiayaan dan kasie pelayanan kesehatan yang kadis kirim sebagai perwakilan dirinya.

"Mungkin besok dibaut dialog yang temanya sesuai selera kadis yaitu tentang pembangunan fasilitas kesehatan sehingga kadis semangat untuk datang karena sesuai hobby nya yang hanya sibuk dengan proytek pembangunan saja. Karena kalau meninjau proyek pembangunan dia mau turun langsung ke lapangan, sementara kalau yang terkait pelayanan dia tidak pernah mau turun langsung" ujar Agung.



Author

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top