Komnas HAM Minta Pengadilan Gusti Gelombang Dihentikan Karena Langgar HAM - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Komnas HAM Minta Pengadilan Gusti Gelombang Dihentikan Karena Langgar HAM

Hukum
komnas ham minta pengadilan gusti gelombang dihentikan karena langgar ham
Suasan Sidang Gusti Gelombang

Pengkalan Bun – Megapolitan Pos: NEGARA telah melanggar HAM. Karena negara melalui Pengadilan Negeri telah mengadili seseorang yang sedang melaporkan sebuah perkara pidana di tempat lain. Demikian pernyataan anggota Komnas Ham Siti Noor Laila yang saat ini berada di Pangkalan Bun, menjasi saksi atas persidangan kasus yang dirasakan sebagai sebuah ‘kriminalisasi’ seorang pelapor, yaitu Gusti Gelombang.

Sebagaimana disebutkan pada Pasal 10 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (PSK), bahwa saksi, korban maupun pelapor, tidak dapat dituntut secara hukum. Pada pasal 10 UU tersebut dijelaskan, jika terdapat tuntuttan hukum terhadap saksi, korban, saksi pelaku, maupun saksi pelapor, maka tuntutan hukum tersebut harus dihentikan. Itulah esensi dari pernyataan Anggota Komnas HAM Siti Noor Laila saat bertindak sebagai saksi ahli dalam sidang perkara penggelapan uang Rp8 juta oleh Gusti Gelombang, Kamis (31/3/2016)

. Sebagaiamana diberitakan sebelumnya, Gusti Gelombang diperkarakan oleh PT Bumitama Gunajaya Abadai (PT BGA) karena ia melaporkan kasus pencairan kredit dengan tanda tangan fiktif atau palsu anggota koperasi plasma Kompak Maju Bersama. Kebetulan, Gusti Gelombang adalah ketua koperasi tersebut. “Anggota koperasi harus menanggung angsuran/kredit yang tidak mereka tandatangani sebesar Rp66,4 miliar. Dan celakanya, anggota koperasi tersebut sampai kini tidak menerima lahan plasma yang sebelumnya dijanjikan 2 hektare itu,” kata Gusti Gerlombang di luar persidangan.

Kasus pencairan kredit Bank Niaga senilai Rp66,4 miliar dengan dasar tanda tangan palsu anggota koperasi tersebut telah dilaporkan oleh Gusti Gelombang ke Polda Kalimantan Tengah, sebagai tindak pidana. Pelaporan tersebut dilakukan pada 17 April 2015. Tetapi, laporan Gusti Gelombang tadi tidak ditindaklanjuti oleh Polda Kalimantan Tengah. Sebaliknya pada November 2015 Gusti Gelombang malah ditangkap Polres Kotawringin Barat atas tuduhan melakukan penggelapan uang insentif atau upeti untuk kepala Desa sebesar Rp8 juta.

Perkara yang sebenarnya sebuah rekayasa inilah yang saat ini diadili di Pengadilan Negeri Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah Dalam kesaksiannya. Anggota Komnas Ham Siti Noor Laila menjelaskan, peradilan Gusti Gelombang ini merupakan persoalan serius. “Karena di sini terjadi pelanggaran HAM. Dan yang melakukan pelanggaran Ham itu adalah Negara, yaitu Pengadilan Negeri Pangkalan Bun,” tutur Siti di tengah sidang yang dihadiri puluhan anggota koperasi dan warga desa yang simpati kepada Gusti Gelombang. Peradilan kasus penggelapan Gusti Gelombang ini berjalan tidak sesuai peraturan perundangan atau prosedur yang berlaku. Yaitu Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban . "Ada syarat hukum normatif yang tak terpenuhi.

Karena itu, persidangan ini dianggap melanggar HAM.” Atas dasar itu, “ Komnasham merekomendasikan kasus atau sidang penggelapan ini ditunda. Sampai perkara yang dilaporkan Gusti Gelombang di Polda itu, mendapat keputusan hukum tetap atau inkrah," tegas Siti Noor Laila. Kepala PN Pangkalan Bun, Titik Budi Winarti yang memimpin sidang tersebut menyatakan, karena sudah disidangkan, maka kasus ini tetap harus dilanjutkan. “Harus dilanjutkan sampai ada putusannya," ujar Titik, Kamis (31/3). Pernyataan Hakim Ketua ini tampak membingungkan warga yang hadir di persidangan ini. Karena dalam sidang sebelumnya, Kamis (24/3/2016), Hakim Titik Budi Winarti malah menyatakan, bahwa sidang ini sudah ada putusannya. (MR).


Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top