Cegah Limbah Plastik, BSN Berharap Masyarakat Gunakan Kantong Plastik Ber-SNI - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Cegah Limbah Plastik, BSN Berharap Masyarakat Gunakan Kantong Plastik Ber-SNI

Peluang Usaha
cegah limbah plastik bsn berharap masyarakat gunakan kantong plastik ber-sni
Karo Humas informasi dan kerjasama BSN Nasrul Irawan

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta : Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya), masih menjadi masalah, Sampah plastik diketahui sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme.

Kantong plastik akan terurai sendirinya 400-500 tahun. Berbagai sampah plastik ini, dapat mengotori habitat makhluk hidup lainnya dan merusak lingkungan serta ekosistem dan rantai makanan.

Oleh karenanya, Badan Standardisasi Nasional (BSN) mendorong pengurangan penggunaan kantong plastik. Atau setidaknya, para produsen kantong plastik diharapkan mau menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kantong Plastik.

BSN sendiri telah menetapkan SNI 7818:2014, Kantong plastik mudah terurai dan SNI 7188.7:2016 Kriteria ekolabel – Bagian 7 : Kategori produk tas belanja plastik dan bioplastik mudah terurai.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito di Kantor BSN, Jakarta pada Jumat (12/04/2019) mengatakan,
SNI 7818:2014 menetapkan syarat mutu dan cara uji kantong plastik mudah terurai yang digunakan sebagai kantong belanja ritel dan tidak digunakan untuk kontak langsung dengan pangan.

" Dengan syarat mutu dalam standar ini yang diantaranya kuat tarik minimal 13,7 (139,74), kemudahan terurai setelah penyinaran sinar UV maksimal 250 jam yaitu kurang 5%, serta kualitas kantong plastik yang ramah lingkungan, lebih bisa dipertanggungjawabkan," kata Wahyu.

Menurutnya, SNI 7188.7:2016, menetapkan kantong plastik dapat terbuat dari termoplastik mengandung prodegradant dan bioplastik yang dengan atau tanpa campuran termoplastik, dimana kantong plastik tidak mengandung zat warna azo.

" SNI ini juga menetapkan pertumbuhan mikroba pada permukaan produk lebih besar dari 60% selama 1 minggu, dengan persyaratan umum produk harus memenuhi standar mutu produk yang sesuai dan atau penerapan sistem manajemen mutu, produk harus mencantumkan logo ekolabel Indonesia, nomor sertifikasi, dan pernyataan mudah terurai," lanjutnya.

Wahyu menambahkan. pada setiap kemasan kantong plastik yang sudah memenuhi SNI 7818:2014, juga sekurang-kurangnya mencantumkan penandaan logo produsen / nama dagang, periode waktu terurai, serta bulan dan tahun produksi.

Wahyu berharap SNI 7818:2014 dapat mendorong produsen untuk meningkatkan kualitas produk sesuai dengan persyaratan standar mutu yang telah ditentukan.

“Selain untuk meningkatkan daya saing industri, penerapan SNI ini juga dapat melindungi konsumen dari penggunaan kantong plastik yang mutunya tidak memenuhi standar,” tuturnya.

Dijelaskannya, SNI 7818:2014 juga menjadi acuan SNI 7188.7:2016, Kriteria ekolabel untuk produk tas belanja plastik dan bioplastik. Kriteria yang disusun berdasarkan aspek sepanjang daur hidup suatu produk ini diharapkan dapat mengurangi dampak pemakaiannya terhadap lingkungan dengan memperhatikan aspek setelah habis masa pakainya.

“Berdasarkan data yang kami miliki, industri yang sudah menerapkan standar ini berjumlah 1 dengan jumlah Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) sebanyak 1,” jelas Wahyu.

Wahyu sangat mengapresiasi industri yang menerapkan SNI kantong plastik, dan mendukung beberapa kota di wilayah Indonesia menerapkan “diet kantong plastik” dengan diterbitkannya peraturan daerah mengenai pengurangan penggunaan plastik di kota modern.

Sementara Kota yang melarang penggunaan kantong plastik di toko modern, yaitu Banjarmasin, Balikpapan, Badung (Bali), Bogor, Sukabumi, dan Banyuwangi.

"Mari terapkan SNI Kantong Plastik demi masa depan lingkungan hidup Indonesia," pungkas Wahyu.

Sementara itu ditempat yang sama, Kepala Biro Humas Kerjasama dan Informasi BSN, Nasrul Irawan mengatakan sampah plastik kini menjadi isu gencar limbah sampah plastik dilaut.

Terkait hal itu, Nasrul menyebut Kemenko Kemaritiman sangat konsen dalam penanganan masalah tersebut.

" Indonesia menjadi urutan ke 2 dalam hal limbah plastik terbanyak.BSN ada rasa tanggung jawab dalam upaya mencegah

pertumbuhan sampah plastik ,"kata Nasrul.


Menurutnya sampai saat ini pihaknya masih kesulitan dalam hal mencari pengganti plastik.

" yang terpenting masyarakat sadar dalam merubah budaya penggunaan plastik, nanti perlahan akan berubah jadi bagus," ujarnya.

Nasrul memberi contoh jika di negara Belanda diterapkan sistim, melarang warganya yang sepulang dari luar negeri membawa oleh oleh berbahan baku plastik.

" Pemerintah Belanda menghimbau warganya untuk membeli oleh- oleh keramik, jadi banyak pengrajin keramik dengan harga murah di Plered laku, sebab Belanda daerahnya rendah sehingga sampah keramik dibiarkan saja di jadikan pengurukan," terangnya.

Nasrul mengungkapkan sampah yang ada di Jakarta sebanyak 6000 ton dapat dimanfaatkan jika dilakukan pengolahan yang baik.

" Sebenarnya kalau kita mau kerjasama dengan pemulung, dapat memilah sampah yang organik dan non organik sehingga sampah dapat dimanfaatkan dan tidak semuanya dibuang ke Bekasi," kata dia.

Nasrul berharap masyarakat harus sadar untuk tidak membuang sampah di sungai, karena sampah plastik yang sudah sampai kelaut sangat sulit untuk diatasi.

" masyarakat sekarang memang sudah mulai malu untuk membuang sampah dipinggiran sungai, karena seperti di pinggiran sungai Ciliwung sudah dibangun jalan - jalan," imbuhnya.

*** Achmad Sholeh.

Author

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top